Sebuah review di musim panas : Rebellion Punk Music Festival 2014

*this article has been published in Jakartabeat.net (Pemilihan kata dan kalimatnya telah diedit oleh editor Jakartabeat)

Banyak yang bilang punk is dead sejak Joe Strummer mati, Johny Rotten jadi model iklan mentega, dan fashion designer menjadikan punk sebuah pop fashion. Atau bisa juga sejak kamu lulus kuliah, membuang segala predikat rebel, dan memutuskan hubungan asmara dengan anak punk. Meski tak sedikit juga yang berusaha menghibur bahwa punk is not dead, hanya mengalami degradasi makna.

Beberapa waktu lalu saya menghadiri Rebellion Music Festival 2014, festival musik punk yang rutin digelar saban tahun di Blackpool, Inggris pada 7 sampai 10 Agustus kemarin.

Agak aneh juga festival musik punk diadakan di gedung opera tempat para pembesar duduk menyaksikan acara dansa-dansi. Oleh panitia, ruangan berkapasitas 3000 penonton ini dipakai untuk band-band besar seperti Biohazard, DOA, Agnostic Front, Slaughter and The Dogs, Evil Conduct, Peter and The Test Tube Babies, Argy Bargy, Anti Pasti, NOFX, Killing Joke, Menace, Vice Squad, Last Resort, Resistance 77, sampai The Gonads.

Ada delapan ruangan besar yang dipakai dengan bar di setiap ruangan yang memudahkan kalau perlu cari minum. Ruangan utama adalah Empress Ballroom yang pernah dipakai untuk konser The Beatles dan Rolling Stones.

Untuk menyaksikan itu semua, tiket yang harus ditebus adalah 120 poundsterling. Jika ditukar ke nilai rupiah angkanya sekitar 2 juta rupiah. Namun karena panitia memiliki nilai tukar sendiri, angka tadi dikonversikan menjadi tontonan 250 band di enam panggung selama empat hari berturut-turut.

Sebelum diadakan di Blackpool, festival musik yang digagas 17 tahun silam oleh Jennie dan Darren Smith ini dihelat di Morecombe, sekitar 60 kilometer dari Blackpool. Awalnya bernama Holidays in The Sun, sesuai dengan musim panas di Inggris yang jatuh tiap bulan Juni sampai Agustus. Karena kerap kali muncul ketegangan antara penduduk lokal, lokasi festival kemudian dipindah.

Bayangkan pecinta musik punk datang dari berbagai negara, berkeliaran di kota selama beberapa hari. Hal ini tentunya menjadi tontonan yang tidak biasa bagi penduduk kota. Saat itu punk di Inggris masih identik dengan berandalan yang hobi meludah ke nenek-nenek, pembuat onar, dan segala label anak bandel lainnya.

Namun era itu sepertinya sudah bergeser. Mereka yang eksis di kancah musik punk era 60 sampai 70-an kini sudah mulai menua, bertambah buncit, juga sudah berkeluarga. Tapi mereka masih merindukan pogo. Mereka sadar mesti menjaga kelakuan jika tetap ingin mempunyai festival musik punk. Dari situlah Holidays in The Sun berganti nama menjadiRebellion Music Festival.

***

Rebellion Festival menyediakan wadah bagi  band-band dari dari Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya meliputi berbagai macam genre seperti punk, hardcore,ska, new wave, psychobilly, anarcho, hingga glam. Beberapa band besar yang pernah unjuk gigi di festival ini pada tahun-tahun sebelumnya adalah Bad Religion, New York Dolls, Social Distortion, The Adicts, Rancid, The Buzzcocks, Sham 69, dan Cock Sparrer.

Tak hanya mengajak band old skull punk yang eksis pada era 70-an namun Rebellion juga mengundang band-band muda pendatang baru untuk bermain di festival ini. Band punk dari segala generasi berkumpul bersama dalam sebuah atap.

Seperti biasa, semakin besar sebuah acara semakin banyak pula kritik yang menghujam. Dalam konsep Do-It Yourself, kredo agungnya adalah being independent is part of punk rock. Festival ini awalnya diadakan oleh punk scene di Inggris dari gigs kecil hingga menjadi sebuah festival besar. Publikasinya pun terbatas pada majalah komunitas, websiteunderground dan media sosial.

Hal ini yang kemudian dipertanyakan oleh para ‘’polisi punk’’ saat Rebellion Festival menggandeng Doctor Martens serta Jagermeister sebagai sponsor. Kesannya atau memang festival ini terbeli oleh kepentingan kapitalis karena kedua sponsor itu merupakan perusahaan besar.

Yah, sayang sekali memang. Saya datang untuk menonton band-band yang dulunya cuman saya dengar dengar dari mp3.

***

Semuanya berawal dari impian jaman kuliah delapan tahun lalu. Butuh pengorbanan besar bagi saya untuk akhirnya bisa ke Winter Garden. Kaki saya gemetar ketika pintu masuk dibuka yang menandakan festival dimulai.

Banyaknya band dan panggung cukup membuat saya bingung dan frustasi untuk memilih band mana yang akan ditonton, apalagi kalau band yang mau ditonton main di jam yang sama di panggung yang berbeda. Tak hanya music performance tapi dalam empat hari itu ada juga literary festival, punk art exhibition, poetry stage, tattoo corner serta punk akustik.

Tak semua band yang main di Rebellion Music Festival saling mendukung. Contohnya saja Hard Skin. Saat manggung, vokalisnya berkata, ‘’If you watch NOFX, I’ll fuckin hate you, NOFXis a fuckin comedy shit!!’’ Sebuah pernyataan yang mengundang tawa dari fans Hard Skin dan pada saat yang bersamaan jadi  awkward moment bagi fans NOFX.

Selama empat hari ada beberapa yang menjadi highlight saya. Pertama, Street Dogs. Penampilan vokalis Mike cukup membakar suasana hari pertama. Mike merupakan mantan personel Dropkick Murphys yang mengadu nasib ke Boston demi mewujudkan cita-citanya menjadi salah satu anggota pemadam kebakaran Boston namun ternyata dia tidak bisa lepas dari musik hingga Mike membentuk band Streetdogs. Di akhir pentas mereka membawakan lagu favorit saya ‘’Free’’. Mike terjun bebas , crowd surfing dari panggung sampai belakang stage.

Band lainnya adalah UK Subs, band legenda yang konon merupakan band street punkpertama di Britania pada medio tahun 70-an. Charlie Harper sang vokalis yang kini berumur 70 tahun terlihat tetap semangat menghajar penonton dengan singelnya ‘’Time and Matter’’. Walaupun termasuk band besar namun Charlie Harper sangat low profile. Ikut nongkrong di bar bersama penggemarnya atau duduk-duduk santai di lapak merchandise bandnya.

Selain itu saya cukup beruntung bisa melihat langsung Beki Bondage, vokalis punk  dari Vice Squad, an eternally great band. Saya masih ingat bagaimana kamar kost saya dulu dipenuhi poster dari Beki Bondage. Di usianya yang sudah setengah abad dia masih terlihat seksi dan nakal dengan baju merah ketat penuh dengan zipper. Beki membawakan ‘’Latex Love”,  “Sniffin Glue”,  dan “Last Rockers’’.

Di hari berikutnya The Ramonas membuat saya pogoing, sing a long together dan tidak sengaja memukul muka orang karena terlalu semangat. The Ramonas yang meng-coverlagu-lagu Ramones ini benar-benar membuat penonton menjadi gila bernostalgia dengan lagu ‘’Sheena is a Punk Rocker”, “The KKK Took My Baby Away’’ serta lagu legendaris Ramones lainnya.

Di Sesi literary festival ada Jello Biafra, former lead singer dari Dead Kennedys, Terry Chimes drummer dari The Clash, dan penulis buku Trainspotting Irvine Welsh. Di poetry stage ada Long Fella yang membacakan puisinya untuk Pussy Riot. Sayang sekali karena konser musik dan literary festival dan poetry stage berjalan di jam yang sama jadi banyak sesi-sesi yang terlewatkan.

Pada akhirnya Rebellion Music Festival tahun ini dapat dibilang cukup menggairahkan dan sukses. Saat rambut-rambut mohawk warna warni yang masih lancip tinggi berdiri di hari pertama menjadi luntur bahkan layu di hari terakhir, artinya semua orang bersenang-senang, menikmati musik, dan bertemu band-band favoritnya. Well, it’s over now. Bye Rebellion Music Festival!

IMG_1947
IMG_2071
DSCN9540
DSCN9587 DSCN9561 DSCN9605
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s