Fenomena SENYAWA di Cafe Oto London 2015

Sebagai seseorang yang sempat melewatkan waktu di skena musik Yogyakarta era tahun 2000-an, saya mengenal sosok Wukir Suryadi sebagai seorang seniman teater sekaligus musisi kontemporer pencipta alat musik yang dinamainya ‘bambu wukir’. Saya juga mengakrabi sosok Rully Shabara sang vokalis ZOO bersuara unik yang bagi saya seperti suara beruang gua menggeram –mungkin hanya dia satu-satunya yang punya suara seperti itu di dunia ini selain beruang.

Masih terekam di ingatan saya bagaimana poster-poster acara musik ZOO, band-band hardcore, punk dan lainnya tertempel berantakan di tembok kamar kos yang lembab di Yogyakarta 10 tahun lalu. Hingga saya menerima kabar bahwa mereka Wukir dan Rully dengan proyek musiknya ‘Senyawa’ akan tur di Inggris Raya, tepatnya di Bristol, London, Glasgow dan berlanjut ke Frankfurt, Jerman.

Ini kabar baik! Sebab meski saya tinggal di Liverpool, London adalah kota tempat saya bekerja dan Senyawa bakal tampil di kota metropolitan terbesar se-Uni Eropa itu pada Senin 7 September 2015. Beberapa teman dari Indonesia yang tinggal di sana dan mengenal Senyawa juga sangat antusias untuk hadir. Seperti de javu, kesempatan ini membangkitkan memori saya menonton acara musik bersama teman-teman Yogyakarta sepuluh tahun yang lalu.

Ya, nostalgia mengingat bagaimana serunya skena musik Kota Gudeg saat itu namun entah dengan sekarang, mengingat saya sudah lama meninggalkan Indonesia dan merantau kesana-kemari. Wajar bila tujuan saya datang ke pertunjukan langka ini selain memuaskan kuping serta mata yang sudah lama tidak dijamah konser musik eksperimental Indonesia, namun juga untuk silahturahmi.

Saya ingat terakhir kali menonton aksi panggung Senyawa kira-kira 6 tahun yang lalu di Yogya kalau tidak salah di Kedai Kebun. Sedangkan terakhir saya menonton Wukir bermain solo sekitar 4 tahun yang lalu saat ia tampil di Den Haag. Jadi konser mereka hari ini tepatnya di Cafe Oto mulai jam 8 malam waktu setempat akan menjadi klimaks dari penantian panjang saya.

Patut dicatat bahwa Cafe Oto bukanlah venue musik sembarangan di London. Cafe yang terletak di 18-22 Ashwin Street ini hanya menyajikan band-band avant-garde terpilih. Dalam wawancaranya dengan The Guardian edisi Mei 2012, Hamish Dunbar selaku pemilik cafe mengklaim bahwa Cafe Oto merupakan satu-satunya tempat eksklusif bagi musik eksperimental di Inggris.

Dunbar mengatakan bahwa orang-orang datang ke cafe karena alasan yang spesifik. “People don’t come because they think it’s a cool place to hang out, but because they want to hear stuff” ungkapnya pada The Guardian. Dan yang teristimewa, Senyawa dapat tampil di sana dengan sambutan yang sangat ramai jelas merupakan hal yang luar biasa. Tak bisa dipungkiri, Senyawa menjadi fenomena malam itu!

Dan keramaian hajat malam itu dibuka oleh seorang laki-laki dari Jepang yang namanya tak disebutkan di jadwal acara. Laki-laki berperawakan kurus dengan rambut panjang yang diikat tak beraturan. Di atas panggung yang gelap dengan sorotan cahaya yang berpusat padanya, ia mulai mendentingkan nada-nada sedih dan depresif dari piano klasiknya dengan sesekali melantunkan suara pilu bertara dengan dukacita. Agak tertekan juga mendengarnya, apalagi ini baru band pembuka namun inilah musik eksperimental yang tidak selalu dapat tersematkan dengan baik di kuping masing-masing individu. Musik yang spontan, bebas ekspresi dan bebas interpretasi.

Sambil sesekali merokok di luar saya bisa lihat orang-orang mengantri di pintu masuk. Beberapa dari mereka bahkan sudah membawa CD Senyawa di tangan. Saya juga bertemu seorang perempuan yang terbang dari Swiss ke London khusus datang untuk menyaksikan Senyawa. Ada juga yang sudah menonton Senyawa di Bristol dan masih ingin melihat konser mereka lagi.

Lepas penampilan band pembuka, Senyawa akhirnya tampil menguasai panggung tanpa basa basi. Ramuan bebunyian tak terbatas dan senar beresonansi khas bambu wukir serta vokal unik Rully yang bisa naik hingga beberapa oktaf dan turun dengan cepat– menyapa para kurator musik yang duduk terpaku di pinggir panggung.

Suguhan perpaduan dentuman suara etnik bambu wukir serta lirik-lirik puitis nan keras yang dilantunkan Rully dengan mengabaikan konvensi alur pertunjukkan adalah sebuah stage actyang liar. Dari awal hingga bagian lagu Jaranan di pertengahan acara menerbangkan imajinasi saya. Saya berdiri tak jauh dari panggung bersama penonton lainnya. Dan malam itu inginnya saya memecahkan botol bir hingga beling berserakan dimana-mana, Dalam imajinasi yang paling liar, inginnya saya bahkan melihat Rully saat itu membawakan lagu itu sambil mengunyah pecahan beling!!

Meski malam itu Senyawa hanya bermain kurang dari sekitar dua jam, saya menjumpai banyak mulut-mulut yang ternganga dan mata-mata fokus yang seperti tak rela melewatkan jamuan musik eksperimental ala Senyawa barang sedetikpun.

Maka tidak berlebihan rasanya bila saya bangga menyaksikan bagaimana pertukaran pesan lintas budaya melalui musik eksperimental dikemas dalam konser malam itu. Dan sampai saya menuntaskan naskah ini, masih terasa bagaimana performa Senyawa seperti menyihir dan membawa kami ke planet lain.

Saya yakin pertunjukan 7 September di Cafe Oto malam itu membekas di pikiran setiap pentonton yang hadir di sana.

Tulisan ini telah di publikasikan di Jakartabeat.net

Advertisements

One thought on “Fenomena SENYAWA di Cafe Oto London 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s